Alex, pria paruh baya itu duduk termenung di sofa besar di ruang tamu yang sunyi. Tidak ada seorang pun menemani. Wajahnya terlihat berantakan dengan rambut tipis memenuhi area seputar rahangnya. Terlihat jelas bahwa dia belum mencukur jenggotnya selama beberapa hari terakhir. Tangannya lunglai memegang selembar kertas. Perlahan dia baca isi kertas tersebut hingga berulang kali, memastikan bahwa yang dia lihat adalah benar dan nyata.

          Selembar surat itu datang kemarin. Dikirimkan melalui pos tercatat. Alex sudah tahu apa isinya bahkan sebelum membuka surat tersebut. Surat gugatan cerai yang telah diajukan oleh istrinya. Dia tidak menduga bahwa wanita itu ternyata membuktikan ucapannya. Dia menyadari semua kesalahannya, tetapi tidak tahu bagaimana cara untuk memperbaiki semua hubungan yang telah rusak ini.

          Berulang kali dia telah mengucapkan talak kepada istrinya. Kata-kata sakti yang telah terucap saat dia dalam keadaan mabuk. Jika kali ini dia menyetujui gugatan cerai istrinya, maka talak yang sesungguhnya akan jatuh. Dia akan kehilangan sang istri. Dia tidak akan bisa lagi menjalani hari bersama wanita yang telah menjadi ibu bagi anaknya.

          Terlalu banyak kenangan manis yang telah mereka lalui bersama. Terasa pedih saat mengingat kembali semua khilaf yang pernah dia lakukan. Menjadi seorang pecandu alkohol memang bukan pilihannya. Namun, dia pun masih belum mampu untuk berhenti dari racun tersebut. Berulang kali istrinya memaafkan dan mencoba membantu,tetapi semua kembali buntu karena dia tidak cukup kuat untuk bebas dari belenggu. Kebencian terhadap ayahnya juga mempengaruhi jiwanya yang rapuh. Inner child yang belum mampu dia hilangkan, padahal istrinya telah berulang kali mengingatkan bahkan mencoba untuk membantu. Namun, dia terlalu egois dan arogan merasa tidak menyimpan semua rasa sakit itu. Menolak tawaran untuk menerima bantuan dari seorang profesional. Merasa bahwa dia tidak butuh semua itu.

          Sebelum palu keputusan terakhir diketuk, masih ada kesempatan untuk negosiasi. Dia paham bahwa masih ada waktu baginya untuk benar-benar berusaha dan berubah kembali menjadi lelaki baik yang pernah dicintai oleh istrinya. Mereka menikah karena cinta dan saat itu dia telah bersih dari segala candu di masa remajanya. Namun, beratnya beban hidup dan pesona dunia tidak mampu dia hadapi hingga akhirnya kembali menyerah pada alkohol demi kebahagiaan semu.

          Alex bangkit dan berjalan menuju rak buku di hadapannya. Meraih sebuah bingkai foto yang berdiri di atas rak. Foto yang penuh dengan senyum kebahagiaan wajah-wajah di dalamnya. Foto yang diambil saat pertama kali mereka tinggal di rumah besar ini. Wanita yang duduk di sampingnya terlihat begitu cantik dan bahagia. Wajahnya bercahaya dengan kearifan dan kelembutan. Senyum itu pun merekah bagai bunga yang mekar penuh dan seorang bocah kecil duduk di pangkuannya. Bocah itu pun terlihat sangat bahagia. Wajahnya perpaduan ayah dan ibunya. Masihkah ada kesempatan untuk menghabiskan waktu bermain kembali dengan bocah kecil itu? Satu-satunya putra yang dia miliki setelah sekian lama menanti. Tuhan berkenan memberi kesempatan kepadanya untuk menjadi seorang ayah di usia yang tidak lagi muda. Seharusnya dia mampu bersyukur atas kesempatan itu.

           Terbayang kembali kenangan manis dan perjuangan hidup yang telah mereka lalui bersama. Alex melihat sekeliling ruangan yang begitu rapi, tetapi terasa hampa. Tidak ada lagi mainan berserakan yang selalu ia keluhkan saat pulang kerja. Tidak ada lagi suara bising teriak dan tawa putranya yang antusias bermain. Tidak ada lagi aroma masakan yang tercium dari dapur. Semua hampa. Dia sendirian. “Tidak … Aku tidak boleh menyerah, aku tidak akan membiarkan mereka pergi dari hidupku.” Alex pun mengambil keputusan untuk menolak gugatan cerai tersebut dan akan meminta maaf juga meminta kesempatan baru.

           Alex meraih gawai dan menekan tombol panggilan. Nada dering tunggu terdengar begitu lama. “Please … Angkatlah, aku butuh bicara.” Alex bergumam dalam sepi dan kecewa karena tidak ada jawaban dari seberang sana. Kembali dia mencoba dan berdoa dalam diamnya. “Assalamu’alaikum …. ” Suara lembut dari seberang membuatnya begitu bahagia. “Wa’alaikumussalam. Hi, Dear. Bisakah kita bertemu? Aku butuh bicara. I need your help, please.”

 

                                                                                             

Oleh: Rohmah Rahmawati

Dalam rangka mengikuti tantangan menulis fiksi Makmood Menulis

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.