Sehari setelah kepergian Ibu, aku seperti kehilangan separuh hidupku. Apalagi mengingat pesan beliau, tentang sebuah kotak berwarna hitam yang ditinggalkan untukku. Ibu meminta, untuk membuka kotak berwarna hitam yang disimpan di dalam lemari bajunya.

“Kunci kotak itu disimpan di dalam laci meja rias di kamar ibu, tetapi surat itu harus kamu baca setelah ibu pergi, ya,” kata Ibu dengan wajah sendu.

Aku hanya mengangguk pelan. Namun, pikiranku masih mencerna kata-kata Ibu barusan.

Ibu memang memutuskan pergi dari rumah. Setelah meninggalnya Ayah empat bulan yang lalu, beliau ingin pulang kembali ke Solo. Menempati rumah Eyang yang kosong di sana. Ibu sangat terpukul dengan kepergian Ayah yang mendadak. Kecelakaan sepeda motor telah merenggut nyawa lelaki yang sangat dicintainya itu. Kepedihan dan kesedihan yang beliau rasakan, tampaknya tidak dapat terobati dengan cepat.

Keluarga kami adalah pendatang di kota metropolitan ini. Ayah dan Ibu merantau sejak menikah. Ayah bekerja sebagai seorang sopir di kantor pemerintahan. Kehidupan kami sangat sederhana. Beliau membeli rumah ini dengan cara mengangsur selama 15 tahun. Alhamdulillah, sejak dua tahun yang lalu, rumah ini sudah lunas. Sementara aku, adalah anak semata wayang mereka. Dulu, kehidupan kami cukup prihatin. Hidup di kota besar, dengan gaji Ayah yang pas-pasan. Tetapi aku bersyukur, kedua orang tuaku mempunyai semangat yang tinggi hingga bisa menyekolahkan aku sampai perguruan tinggi.

Aku sebenarnya kaget dengan keputusan Ibu yang memutuskan pulang ke Solo tanpa mengajakku. Memang, aku sendiri saat ini sudah bekerja. Sebagai seorang guru di sebuah SMP swasta. Allah memberikan kemudahan bagiku untuk mendapatkan pekerjaan. Ayah dan lbu pun turut senang. Ibu bahkan membelikanku sebuah jam tangan baru sebagai hadiah atas diterimanya aku bekerja.

“Jam tangan ini hadiah buat kamu, semoga kamu bisa menjadi seorang guru yang amanah dan menyayangi murid-muridmu. Selain itu, dengan melihat jam tangan ini, kamu akan selalu ingat kepada ibu,” kata beliau dengan mata berkaca-kaca.

“Terima kasih, Bu,” ucapku terbata.

Aku mengusap tetesan air mata yang menitik di pipiku. Ibu adalah segalanya bagiku. Penyemangat sekaligus sahabat terbaikku. Itulah sebabnya mengapa aku sangat sedih dan bertanya-bertanya, mengapa Ibu tega meninggalkan aku sendiri di kota ini.

Aku sempat protes saat Ibu menyampaikan rencananya untuk pulang kampung tanpa mengajakku.

“Kenapa tidak kita jual saja rumahnya, Bu. Jadi, kita bisa pulang ke Solo sama-sama,” ucapku dengan nada memohon.

“Jangan, Raisa. Rumah ini adalah warisan buat kamu. Ayah sudah membelinya dengan susah payah untuk diwariskan kepadamu. Lagi pula, kamu sudah diterima bekerja di sini, jadi alangkah baiknya, kalau kamu tetap di sini. Kan Raisa sudah besar. Jadi enggak takut tinggal sendiri ‘kan?” tutur Ibu lembut.

“Aku bisa cari kerja lagi di Solo, Bu,” ucapku pelan.

“Jangan. Kalau liburan, kamu bisa pulang ke Solo menengok ibu,” kata beliau sambil membelai kepalaku.

“Nanti siapa yang akan mengurus dan menemani Ibu di sana?” tanyaku lagi.

Kali ini, aku benar-benar berharap beliau akan luluh dan merubah rencananya untuk pulang ke Solo, atau paling tidak akan mengajakku. Namun, ternyata semua usahaku sia-sia. Ibu tetap pada pendiriannya.

Aku hanya bisa pasrah. Toh untuk selanjutnya, aku akan disibukkan dengan pekerjaanku sehingga akan sedikit mengurangi rasa sedih dan kesepian setelah kepulangan Ibu nanti.

Hari yang tidak pernah aku harapakan itu pun tiba. Pagi itu, aku mengantar Ibu ke stasiun. Perpisahan ini sungguh menyiksaku. Kulihat, beliau beberapa kali menyusut air matanya dengan tisu. Aku pun tidak kalah sedihnya. Air mata ini mendesak-desak ingin keluar. Namun, aku berusaha menahannya karena tidak ingin Ibu melihatku bersedih. Kami berpelukan erat, seakan ini adalah perpisahan yang lama. Tidak banyak kata yang kami ucapkan. Setelah Ibu masuk ke dalam ruang tunggu, aku segera menumpahkan tangis yang sejak tadi kutahan.

Sehari setelah kepergian Ibu, aku pun membuka kotak hitam yang beliau maksud. Tanganku bahkan gemetaran saat membuka kuncinya. Entahlah, ada perasaan berat dalam hati ini untuk mengetahui isinya.

Akhirnya dengan perasaan tak menentu, aku membuka kotak itu. Ternyata isinya adalah selembar kertas. Berwarna merah muda, dengan hiasan bunga-bunga kecil yang cantik dan manis. Perlahan aku membaca isi tulisan yang ada di dalam kertas itu. Tampaknya itu adalah sebuah surat yang ditujukan kepadaku.

Dear Rania sayang,
Maafkan Ibu jika harus menceritakan semua ini. Sebenarnya ibu tidak ingin kamu mengetahui hal ini. Namun, keadaan yang memaksa wanita tua ini untuk mengatakannya.

Dear Rania sayang,
Sebenarnya kamu bukan anak kandung Ibu. Kamu adalah anak Ayah dengan seorang wanita yang dinikahinya sebelum menikah denganku. Namun, takdir mempertemukan kita dalam satu ikatan. Ibu kandungmu pergi meninggalkanmu saat kamu berusia dua bulan. Tiga bulan kemudian, Ibu masuk dalam kehidupan kalian dan menjadi Ibu sambungmu. Tapi percayalah, Rania. Ibu sangat menyayangimu, meskipun kamu tidak lahir dari rahimku.

Dear Rania sayang,
Aku bersyukur atas karunia bayi yang Allah berikan dalam hidupku. Aku sendiri tidak akan pernah bisa mempunyai anak karena penyakit yang aku derita dad mengharuskan rahimku diangkat saat aku masih gadis.

Dear Rania sayang,
40 hari setelah meninggalnya Ayahmu. Ibu kandungmu datang dan memintamu kembali. Bukan karena aku tidak menyayangimu, Nak, tetapi apalah daya, aku hanya ibu sambung. Sementara yang lebih berhak adalah Ibu kandungmu. Aku meminta waktu selama empat bulan untuk akhirnya mengambil keputusan ini. Maafkan Ibu, Rania. Meskipun kita tidak lagi tinggal bersama. Namun, ikatan hati di antara kita akan terus terjalin. Besok Ibu kandungmu akan datang. Sambutlah dia dengan cinta karena dari rahimnyalah kamu dilahirkan.

Salam sayang, Ibu yang akan selalu menyayangimu sampai kapan pun.

Tiba-tiba, aku merasakan puluhan palu menghantam kepalaku. Rasa pusing menyergap dengan hebat. Tubuhku lemas, seakan tak bersisa tulang di dalamnya. Tanganku gemetar, selembar surat itu terjatuh. Bagiku, itu adalah sebuah surat sakti yang benar-benar melumpuhkan semua semangatku.

Bayangan wajah Ibu yang selalu tersenyum manis menyambut kedatanganku di sore hari, menari-nari di pelupuk mata. Tutur katanya yang lembut dan penuh kasih, terngiang-ngiang di telingaku.

Aku menangis tergugu. Ingin rasanya terbang ke Solo saat ini juga dan bersimpuh di kaki beliau. Meskipun Ibu bukanlah wanita yang melahirkanku, tetapi ada cinta dan kasih sayangnya yang mengalir dalam setiap urat nadi dan darahku. Aku memejamkan mata dan bersimpuh. Memohon kepada Allah agar masih diberikan kesempatan untuk membalas semua jasa Ibu selama ini.

Kudus, 4 Desember 2019.

Oleh: Ulfah Wahyu, Kudus.

Dalam rangka mengikuti tantangan menulis fiksi Makmood Menulis.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.