Lelah

Source: pinterest/boardpanda.com

“Aku lelah. Aku mau tidur dulu,” ucap suamiku sambil meletakkan tas kerjanya di atas meja.

Aku yang sedari tadi menunggunya merasa kecewa. Aku pun lelah, sama dengan yang ia rasa. Lelah, capek, dan suntuk. Setelah semalam berjibaku dengan pasien tanpa memejamkan mata sedikit pun dan pagi hari setelah pulang kerja, cucian baju masih menggunung, cucian piring menumpuk, anak-anak belum makan, bagaimana mau makan? Yang dimakan saja belum ada. Hmm, pikiran rasanya penat melihat pemandangan yang sering sekali kulihat. Seperti biasa, aku kerjakan satu persatu ketika suamiku sudah pamit berangkat kerja.

Kutarik napas panjang. Si Bayi yang duduk di gendonganku sambil menyusu, seakan tak ingin berganti bermain dengan ayahnya. Sementara aku sangat mengharapkan bayiku turun, kemudian mengganggu ayahnya yang sudah mulai tidur.

Hatiku rasanya panas, hampir mendidih malah, kepala pening, perut mual. Aku tahu, aku kelelahan bercampur dengan marah yang kutahan.

“Nak, bobo, yuk,” kataku pada Si Bayi yang berusia 12 bulan. Ia hanya tersenyum. Kemudian kugendong ia menuju kasur ternyaman kesayanganku, baru saja kurebahkan tubuhku, ia sudah menangis meminta digendong untuk bermain di luar kamar. Oh, Tuhan … Rasa tak kuat kaki berjalan.

Kubiarkan bayiku bermain lego kesukaannya. Abangnya sedang bermain dengan anak tetangga, jadi si bayi tidak mau bermain sendirian dan aku harus menemaninya.

Kulirik jam dinding, sudah sejam suamiku tidur, aku berharap ia bersedia bergantian menjaga Si Bayi. Aku ingin memejamkan mata sebentar saja.

“Mas, bangun. Gantian tidurnya. Aku semalam tidak tidur,” kataku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.

“Hemm …,” jawabnya singkat. Matanya masih terpejam. Kulihat ia memang lelah. Mungkin semalam begadang mengerjakan laporan, pikirku.

“Mas, gantian ngasuh Si Dede. Dia enggak mau kukeloni. Mau mainan terus dan minta ditungguin.” Ia membuka sedikit matanya, kulihat sklera matanya masih merah. Ia memandang mataku yang sayu.

“Sudah, Dede ditinggal tidur dulu aja. Biar dia main sendiri,” ujarnya menahan kantuk.

Baru saja kutinggal sebentar untuk membangunkan ayahnya, Si Bayi sudah menangis menyusul ke kamar dan menarik tanganku mengajak keluar.

“Mas, gantian,” kataku lagi sambil pasang wajah memelas.

“Abang kemana, sih?” Ia menanyakan anak keduaku, kami biasa memanggilnya Abang. Memang, kalau ada Abangnya si bayi mau bermain dengannya. Kami bisa sedikit lega untuk tidur sejenak.

“Lagi main ke tetangga.” Kulihat suamiku beranjak dan membawa bantal ke arahku. Ia mau menemani Si Bayi bermain, tetapi sambil tiduran. Aku segera beranjak pergi ke kamar.

Baru mau merebahkan tubuh, perutku terasa mulas. Secepat kilat, aku berlari ke toilet. Tidak lama kemudian suara tangisan Si Bayi sudah membahana di depan pintu toilet. Oh, Tuhan! Kenapa bisa tahu ibunya lagi “bersemedi”? Ambyar sudah imajinasi yang sedang kunikmati. Tangisan Si Bayi  semakin melengking. Aku tak kuasa meneruskan semuanya meski perut masih sedikit mulas. Kusudahi “semediku” sambil menahan marah di dada. Marah pada siapa? Keadaan? Entahlah aku tak tahu. Yang pasti ini karena ulah suamiku. Ia pasti tidur lagi, membiarkan anaknya pergi sendiri. Bahkan, lengkingan tangis anaknya pun tak membuatnya bangun dari indahnya mimpi.

Setelah keluar dari toilet, segera kugendong Si Bayi yang sudah memamerkan senyuman dengan deretan gigi yang baru enam jumlahnya. Sepertinya ia merasa puas “ngerjain” ibunya ini.

“Mas, bangun, to. Temani anaknya dulu. Gantian.” Aku kembali membangunkan suamiku yang tidur di antara Lego yang berhamburan.

“La, Dede dari mana?”

“Dia, lo, nyusul aku yang lagi pup. Kesel banget enggak, sih? Aku, tuh, lo, sampai sudah lupa rasa nikmatnya ketika lagi pup tanpa mendengar teriakan bayi, selalu seperti itu.” Mendengar keluhanku, suamiku tertawa terbahak-bahak.

“Ish, malah ketawa lagi.”

“Ya, sudah, kalau pup pas di rumah sakit saja, Neng.”

“Duhhh, Mas … sama saja. Di rumah sakit pun baru enak-enak berimajinasi, pasien mengetuk pintu berkali-kali dan temanku tidak bangun untuk membukakan pintunya. Menderita banget enggak sih, Mas?”

Halah, begitu saja menderita,” ucap suamiku sambil mengejek.

“Mas sih, enggak ngerasain. Seperti apa rasanya perut mules, tetapi tidak tuntas mengeluarkannya.

Mau coba kah?” Suamiku makin terpingkal mendengar kata-kataku. Kutaruh si bayi yang baru saja kususui di pangkuannya.

“Aku lelah sekali. Izin tidur dulu sebentar. Please …. jangan diganggu,” ucapku sambil meninggalkan suami dan Si Bayi.

Akhirnya, aku bisa merebahkan tubuhku. Kupejamkan mataku dan aku tak ingat apa-apa lagi.

“Bu …ibu … bajuku kotor, aku tadi mainan pasir dan air.” Mataku seketika terbuka dan melotot melihat si Abang di dalam kamar dengan pakaian yang sangat kotor. Oh, My God! Cobaan apa lagi ini?

“Segera ke kamar mandi, Bang. Jangan ke kamar tidur.” Aku menuntun si Abang menuju kamar mandi.

“Iya, aku tadi udah ke kamar mandi. Ibu aku panggil enggak bangun-bangun. Aku enggak bisa lepas bajunya, nih,” kata si Abang merajuk.  Kemudian, aku bantu melepas baju atasannya dan kubiarkan ia mandi sendiri dulu.

Aku mencari suamiku ke kamar depan dan ternyata ia sudah kembali terlelap dalam tidurnya bersama Si Bayi yang berbantal lengan ayahnya.

Si Bayi sepertinya kelenger bau ketek “sakti” ayahnya, nih. Dari tadi aku keloni tidak mau tidur. Baru sama ayahnya sebentar langsung pada ngorok, hmm.” pikirku

Lupa dengan si tengah yang sedang mandi, aku merebahkan tubuh di samping bayi. Mataku masih lengket, kepala berat bagai ditindih palu.

“Ibu, aku pakai baju mana, nih? Cariin baju.” Suara si Abang memecah mimpi manisku.

 Oh, Tuhan. Sampai kapan terus begini? Aku bertanya dalam hati.

Sampai mereka besar nanti dan bisa mandiri. Jawabku sendiri.

 

Oleh: Ukhty Te-eL, Pangkalan Bun, 5 Desember 2019

Dalam rangka mengikuti tantangan menulis fiksi mini Makmood Menulis

 

 

0 Shares:
1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

Selembar Surat

Sehari setelah kepergian Ibu, aku seperti kehilangan separuh hidupku. Apalagi mengingat pesan beliau, tentang sebuah kotak berwarna hitam…
Read More

Surat Gugatan

Alex, pria paruh baya itu duduk termenung di sofa besar di ruang tamu yang sunyi. Tidak ada seorang…