Memulai Bisnis? Hindari 5 Mitos berikut ini, Nomor 5 Bikin Bahagia

Source: pexels.com

Hai Miks!

Terkadang untuk memulai sesuatu yang besar, Anda sudah terlalu banyak kekawatiran hingga berakhir dengan tidak melakukannya sama sekali.

Seperti memulai bisnis, sering dijumpai rasa kawatir lebih besar dari pada semangat untuk memulai.

Padahal jika Anda terus kawatir dengan sesuatu yang belum terjadi, maka justru akan menghambat langkah. Termasuk kekawatiran yang ternyata hanya sebuah mitos yang sering didengar menjadi faktor utama terhambatnya action untuk memulai bisnis.

Berikut 5 mitos yang dipercaya sehingga ikut membatasi tekad awal yang menggebu untukmemulai bisnis.

1.Memulai bisnis harus memiliki detail ideal bisnisnya

Benar pepatah mengatakan jika kita akan berperang, maka kita harus mempunyai strategi dan kesiapan yang matang sehingga dapat melawan musuh dan memenangkan pertandingan. Namun, dalam hal bisnis, idealisme yang terlalu tinggi malah akan menghambat langkah awal memulai bisnis itu sendiri.

Mengapa dikatakan menghambat? karena hal ini berhubungan dengan kepercayaan seseorang, yang mana ketika mengurusi detail bisnis berlarut-larut, kemudian menemukan kesulitan atau hambatan yang tidak bisa menemukan solusi cepat, maka akan menciutkan nyali kita. Padahal belum terjadi loh.

Berbeda halnya jika cukup mengetahui dasar bisnis yang akan dijalankan, lalu segera memulai, dan sembari itu menemukan hambatan dan rintangan, maka mencari solusi di setiap masalah ini lah yang akan membantu kita menemukan strategi bisnis yang sesuai dengan kejadian di lapangan.

Menikmati proses jatuh bangunnya, hingga memiliki mental jatuh 5x bangun 6x.

Jadi mitos yaa jika berbisnis harus memiliki detail bisnisnya, cukup dasarnya saja dulu, dan segeralah memulai. Faktanya Learning by doing menjadi pelajaran dan guru terbaik dalam berbisnis.

2. Memulai bisnis saat siap

Sering dengar kan jika diajak bisnis, beberapa orang akan mengatakan kalimat serupa seperti ini :

  • Ah saya malu
  • Ah bisnis cemen
  • Ah modalnya besar banget kalau bisnis
  • Ah saya mah apalah cuma remahan rengginang
  • dan lain sebagainya.

Cobalah merubah kalimat “Ah” dengan memberikan awalan huruf W, seperti ini :

  • Wah ide yang bagus jualan online shop
  • wah saya belum pernah sih, tapi saya akan mencobanya
  • wah ternyata dengan saya pintar memasak bisa berpeluang menghasilkan ya
  • wah saya ingin belajar lebih banyak

Maka rasakan perubahan yang dahsyat pada diri Anda, walaupun kesiapan untuk berbisnis belum ada, namun jika Anda bisa merubah kata “Ah” menjadi “Wah” maka bukan tidak mungkin akan memancing pemikiran positif pada diri Anda.

Yang tadinya tak siap bisa menjadi siap, toh ternyata mitos kalau berbisnis harus siap dulu. Faktanya adalah dengan pintar melihat peluang, maka Anda tak perlu siap untuk berbisnis, tapi terkadang kondisi yang mendorong Anda untuk nekad mencobanya.

3. Memulai bisnis harus memiliki banyak uang

Banyak yang tidak diketahui oleh orang yang memulai berbisnis, bahwa modal awal dalam berbisnis adalah bukan dengan memiliki banyak uang. Mitos ini seakan mendarah daging hingga membuat sudut pemikiran yang sempit. Padahal telah terbukti seberapa banyak pengusaha yang sukses saat ini bahkan dimulai dari uang yang sedikit.

Tapi bukan berati tak butuh ya, faktanya modal bisnis yang menempati peringkat ke tiga setelah kemauan dan mental adalah uang. So … jangan minder dulu ya jika ingin memulai bisnis tapi tak memiliki uang yang banyak.

Mulailah dengan yang sedikit, konsisten didalamnya, catat pengeluaran dan pemasukan dengan catatan yang jelas, maka modal yang paling diperlukan saat sudah memulai adalah besarnya kemauan.

Banyak orang kaya, namun tak memiliki kemauan dan mental untuk berbisnis, sehingga uangnya habis untuk berfoya-foya bahkan habis pada money game dan investasi bodong. Namun banyak penjual kue pasar bermodalkan hanya beberapa rupiah saja dan menjajakan jualannya door to door, namun karna kemauan dan mental yang kuat, akhirnya mamiliki warung kue yang besar.

4. Memulai bisnis harus memiliki staff

Jika baru saja memulai bisnis, maka sebaiknya perhitungkan dengan benar apakah sudah perlu memilki staff?

Saat baru akan memulai bisnis, pasti akan ada pengeluaran yang banyak sebagai bentuk modal usaha. Biaya-biaya itulah yang harus dipostkan dengan tepat agar usaha bisa berjalan. Disarankan jika baru memulai usaha, lebih baik mengerjakan dulu dengan alat yang ada dan sdm yang ada. Mitos jika harus langsung memiliki staff. Faktanya ketika memiliki staff namun orderan belum memuncak, maka akan ada delay pekerjaan sehingga karyawan menganggur, sayang kan ?

Berbeda kondisi jika usaha Anda sudah berjalan dan mendapatkan ritme pembelian dan penjualan serta jelas membludak orderan. Lalu merasa bahwa harus memilki team untuk membantu mengerjakan orderan, maka memiki staff menjadi sebuah kebutuhan.

5. Memulai bisnis harus memiliki To Do List harian yang membludak

Menjaga produktivitas dalam berbisnis menjadi hal yang penting. Pekerjaan yang menumpuk akan menjadi boomerang jika kita tidak memiliki list pekerjaan yang harus dikerjakan setiap hari. Namun, fakta yang terjadi, ketika mengelist semua pekerjaan bisnis harian hari itu, malah membuat merasa bersalah jika tidak sempat terealisasikan.

Mengapa demikian bisa terjadi ?

Karena mengelist to do list harian bisnisnya tidak diselipi dengan quality time bersama keluarga, tidak diselipi dengan me time, tidak diselipi dengan berinteraksi di medsos, sehingga yang dipikirkan hanyalah bekerja, bekerja dan bekerja.

Dan saat tidak bisa terealisasikan semua, lalu keluarga juga mengeluh karena tidak ada quality time, dan diri sendiri merasa lelah dan hopeless, maka disinilah akan timbul rasa bersalah. bagaimanapun juga Anda berbisnis untuk memenuhi kebutuhan keluarga bukan? sedangkan keluarga tak melulu membutuhkan uang hasil bisnis Anda.

Lalu bagaimana solusinya?

Buatkah to do list yang masuk akal, berikan target yang manusiawi, jangan terlalu keras terhadap diri sendiri, mintalah bantuan istri atau keluarga atau teman sejawat yang bisa membantu.

Atur Jadwal keseharian dengan lebih fleksibel,  kategorikan dari pekerjaan yang wajib dikerjakan, yang bisa ditunda, dan yang tidak perlu dikerjakan. Hal ini akan membantu melawan mitos bahwa to do list bisnis harian harus membludak.

Faktanya fleksibel pun dengan menyeimbangkan pekerjaan dan waktu keluarga akan membuat Anda lebih teratur dan bahagia.

Semoga bermanfaat ya

 

Tantangan Makmood Publishing hari ke-10

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like