Anak atau Siswa adalah Berlian, Pendidik Pembentuknya Menjadi Tak Ternilai Harganya  

 

Judul Buku                : Mutiara Kasih Pendidikan
Penulis                        : Pur wani Wijayanti , Dkk
Penerbit                      : MakmoodPublshing
Tahun Terbit             : 01 November 2019  (cetakan pertama)
Jumlah halaman       : 165 halaman
Ukuran Buku            : 14 x 20 cm
Jenis Buku                 : Non Fiksi
ISBN                           : 978- 623- 91820- 7

Mengemban amanah sebagai pendidik tentu tidaklah mudah. Pendidik tidak hanya sebatas guru tetapi termasuk orang tua, dan masyarakat.  Setiap kisah yang terjadi dalam hidup kitas sarat  akan hikmah dan manf aat. Seperti dalam  antologi yang menceritakan kisah seputar guru dan muri dnya. Kita hidup  tidak lepas dari bimbingan seorang guru, entah  itu guru di rumah maupun di sekolah.

Antologi ini di tulis oleh beberapa perempuan yang hobi menulis dan mempunyai berbagai macam kesibukan, tetapi tetap ingin menuangkan pengalaman tak terlupakan dalam sebuah tul isan.

Sinopsis:

Saya melihat sosok kecewa di matanya  “Merasa pintar, menganggap kami  ini orang-orang kuno yang tidak pengalaman”. Aku menunduk, tak kuat menatap mata tua itu. Bibir hitamnya bergetar saat berbicara. Tangannya bergoyang-goyang seolah ingin menumpahkan semua rasa. “Rif, aku ingin tahu, apakah kamu termasuk ke dalam golongan orang yang mencela cara  generasi kami dulu? Apakah juga akan menyalahkan apa yang telah kami lakukan kepada kalian? Jawab, Rif! Aku ingin tahu!” Mbah guru bertanya padaku. (Mbah Guru Sastro, Ari Arti)

“Tolong dijawab pertanyaan saya. Mengapa ibu-ibu begitu membenci Anjani? Apakah perlikaunya paling buruk di kelas? Apakah anak-anak lain mempunyai perilaku baik tanpa kesalahan? Sebagai orang dewasa, mengapa tidak mau peduli pada Anjani? Tahukah penyebab Anjani bersikapa begitu? Pernakah ibu-ibu mengenal Anjani lebih dekat, memperlakunnya dengan baik dan manusiawi? Anjani hanyalah seorang anak kecil berusia tujuh tahun, kelas satu SD, sedangkan kita semua adalah orang dewasa yang sudah menjadi tua. Bagaimana jika ibu yang menjadi Anjani atau Anjani itu anak ibu?” celotehku mengalir tanpa henti, menampakkan luka menganga di sudut hati. (Anjani, Titik Jeha)

Sinopsis buku antologi ini diambil dari dua tulisan penulis. Kedua tulisannya,sangat menggugah pbagi para pendidik di rumah atau disekolah. Kerinduan dan kebahagiaan sosok guru sepuh seperti sosok Mbah Sastro, usianya sudah 90 tahun. Tragisnya kisah Anjani murid kelas satu SD, dibenci oleh teman-teman dan orang tua temannya tersebut. Akhirnya Ajani meninggal dengan kisah memilukan terkurung di dalam sebuah lemari.

 

Kisah Pengalaman Penulis

Buku ini berupa antologi,  terdiri dari enam belas judul dan empat belas (14) orang perempuan penulis. Mereka menuangkan pengalaman sebagai guru atau pendidik, baik di rumah maupun di sekolah.

Satu Masa. Tulisan antologi pertama ini berkaitan kisah Ayesha terjebak menjadi siswa kelas III IPA 3. Kelas ini dicap oleh semua gurunya adalah kelas peribut, pemalas, siswanya nakal-nakal dan sebutan negatif lainnya. Pak Rayhan ditugaskan di tersebut.  Awalnya  Pak Rayhan mendapat tantangan atau penolakan dari murid-murid kelas. Tetapi kondisi kelas, dapat dirubah perlahan-lahan. Para murid timbul kembali semangat belajarnya. Hal ini, terwujud  karena kegigihan dan pendekatan Pak Guru Rayhan dalam mendekati sebagai guru sekaligus teman mereka. Kemudian menanamkan kepercayaan bahwa mereka bisa berubah dan berprestasi seperti kelas yang lain.

 

Masih Ada Hari Esok.  Tulisan kedua ini mengisahkan, Bu Nur. Dia adalah guru, dianamahkan kepala sebagai wali kelas. Bu Nur membimbing kelas istimewa karena siswanya banyak  masalah. Bu Nur  termasuk guru mudah dekat dengan para siswanya. Melalui pendekatan sosok keibuan dan kelembutan Bu Nur  sedikit demi sedikit siswa di kelas istimewa berubak ke arah lebih baik. Awal para siswa enggan melaksanakan salat dan mereka mau salat.  Intinya semua berubah kearah lebih baik, karena pendekatan, kegigihan, serta pandangan positif seorang guru seperti Bu Nur. Bahwa setiap anak bermasalah, berubah menjadi lebih baik. Apabila mereka didekati dengan kelembutan, menanamkan kepercayaan kepada mereka. Bahwa mereka bisa menjadi yang terbaik.

Darah Muda. Siswa-siswa SMA, memang sudah remaja malahan beranjak dewasa awal. Permasalahan sekecil apapaun, sulit diterima dengan kepala dingin. Mereka cenderung mengikuti darah mudanya. Terkadang tidak menghiraukan bahaya menghadang, baik dirinya maupun orang-orang terdekatnya. Kisah ini adalah perilaku Andi pemimpin geng di sekolahnya. Sikap dan penampilannya layaknya pemimpin geng, pakai kalung, rambut dicat, dan pernak pernik lainnya. Guru-guru di sekolahnya tidak menyenangi sikap dan perilakunya tersebut. Perilaku Andi berubah lebih baik karena andil dari Bu Sita. Guru yang diamanahkan sekolah menjadi wali kelasnya. Kelembutan dan kasih sayang Bu Sita, Andi berubah.

Recehan Emas. Kisah salah seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Ganggang, Tawang, Weru, Sukoharjo, Jawa Tengah. Namanya adalah Safitri, para guru dan teman-teman memanggilnya Fifi. Fifi menyedekahkan uang tabungannya. Tabungan terdiri dari uang recehan dan ada satu lembar uang dua puluh ribu. Fifi melakukan halnya karena keinginan sendiri dan disertai motivasi orang tuanya. Orang tua Fifi, menyetujui keputusan anaknya. Walaupun hidup keluarga sederhana.  Kedua orang tuanya  menanamkan kepada anaknya tetap bersedekah. Sebab Allah, sayang kepada orang-orang yang suka bersedekah. Perlu sejak kecil ditanamkan kepada anak atau siswa pintar dan kuat imannya.

Bintang di Hati Emak. Orang tua, tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik anaknya.  Tak kalah penting adalah memenuhi kebutuhan psikis anaknya. Bentuk pemenuhan psikis anak oleh orang tua adalah menanamkan anak sabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupan. Hal itu, harus  dilakukan sejak kecil, seperti Emaknya Surya. Setiap kali Surya berkeluh kesah dengan masalah yang dihadapinya di sekolah. Emak, Surya selalu menasehati dan memberikan  kasih sayang kepada anaknya. Walaupun hanya sebagai buruh cuci. Semua keadaan yang mereka hadapi, akhirnya Surya dapat menerimanya sabar dan ikhlas.

Teman- Teman Kecilku. Pengalaman guru bersama siswa-siswanya. Guru atau pendidik di sekolah bukan hanya mengajarkan ilmu tetapi lebih penting dari itu adalah mendidik. Sebab mengajar hanya mengantarkan siswanya menjadi pintar. Apabila mendidik menjadikan siswanya pribadi berakhlak mulia. Mengajar dan mendidik bagi guru harus diseimbangkan.  Sebab kedua peran tersebut, menjadikan siswanya manusia terpelajar tetapi berperilaku terpuji.

Kamar Sebelah. Pendekatan Ustazah Sofi terhadap santri bimbingannya di pondok pesantren tempat dia mengabdi. Pertengkaran dua orang santri dapat diatasinya dengan kelembutan dan kasih sayang tulus kepada mereka. Tidak hanya itu, Ustazah Sofi selalu memohon petunjuk kepada Allah. Sehingga dalam menjalankan amanah sebagai ustazah, membimbing dan melayani para santrinya dengan baik.

Mr. Wistle.  Kisah ini menggambarkan sosok Pak Sanggino dan murid dikelasnya  termasuk Nindy. Pada jam olah raga, Pak Sanggino meminta semua siswa di kelas  Nindy berlari  mengitari kampung dekat sekolah. Semua siswa diminta jujur mengikuti jalur yang telah ditetapkan. Tujuh siswa di kelas Nindy dan termasuk dia, mengambil jalan pintas. Perbuatan mereka diketahui Pak Sanggino. Kemudian ketujuh siswa tersebut, dipanggil bersama orang tua ke rumahnya. Begitu juga Nindy dan papanya hadir ke rumah Pak Sanggino. Pesan Pak Sanggino kepada semua siswanya adalah menanamkan sikap jujur dan bertanggung jawab dalam hidup.

Kesepuluh. Sekeping Pengalaman untuk Para Pendidik Indonesia. Memang konsep pendidikan karakter yang diusung dalam penerapan kurikulum 2013, seharusnya diaplikasikan. Selanjutnya orang tua, guru dan pengambil kebijakan saling bekerjasama bagaimana semua program tersebut terlaksana dengan baik. Bahwa pendidikan anak oleh orang tua tidak sepenuhnya diserahkan ke guru di sekolah. Sebenarnya penanaman karakter tersebut adalah peran orang tua di rumah. Sedangkan guru di sekolah membantu memfasilitasi bagaimana karakter anak atau siswa menjadi baik.

Guruku, Teman Kakakku, dan Guru.   Guru, sukses adalah guru mampu menajdikan muridnya lebih pintar dan lebih baik dari dirinya. Dengan demikian guru adalah penebar manfaat dan kebaikan kepada semua siswanya. Hal serupa tentu dilanjutkan oleh murid-muridnya di masa berikutnya. Pengabdian sebagai guru adalah untuk mengejar kebaikan di dunia dan akhirat. Ilmu dan pendidikan yang diberikan menjadi amal jariyah hendaknya.

Pengalaman Menjadi Guru TK. Guru di TK, memiliki kasyikan tersendiri, karena menghadapi anak-anak yang polos dan beranekaragam tingkah polanya. Mereka anak-anak yang baru kenal dunia pendidikan formal, walaupun belajar sambil bermain. Siswa setingkat TK, bermain adalah belajar. Kemanjaan, rengekkan dan terkadang diwarnai kenakalan mereka. Hal ini, tentu dimaklumi karena mereka baru berpisah dari orang tuanya. Belajar hidup tanpa di dampingi orang tua, sekitar empat jam dalam sehari. Tetapi masa TK ini merupakan rentang gold age atau masa keemasan bagi anak. Oleh karena perlakuan pendidikan yang tepat dari orang tua dan guru akan berpengaruh pada masa perkembangan berikutnya.

Mbah Satro. Sosok guru, setiap zaman berbeda. Nah begitu juga kisah  Mbah Sastro. Guru sepuh atau sudah lanjut usia. Perlu didengar dan dihargai keberadaannya oleh orang-orang terdekatnya. Bahagia dan bangga kalau dikunjungi oleh muridnya. Apalagi muridnya berhasil dan sukses menggapai cita-citanya. Bagaimanapun kondisi guru, harus dihargai dan dihormati.

Rinduku pada Tingkahmu, Anakku. Profesi guru, penuh pernak pernik. Terkadang menimbulkan rasa bangga, bahagia dan sedih. Hal ini,  karena tingkah pola siswa. Terkadang siswa nakal, tidak sopan, malas buat tugas dan sebagainya. Kebahagiaan bagi guru apabila anak-anaknya berprestasi, akhlaknya terpuji. Bisa juga sebelumnya siswa akhlak tidak terpuji, kemudian berubah menjadi terpuji atau baik. Guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik siswanya.

Ogah Jadi Guru. Profesi guru kalau dipikirkan, memang tidak gampang menjalani. Sebab harus berhadapan dengan  manusia, sesuai tingkat pendidikannya. Beratnya tantangan menjadi guru, ada orang mau berprofesi sebagai guru. Tetapi setelah dijalani jadi guru mengasyikan. Nilai dibalik kesulitan adalah kemulian para pendidik, apa yang dilakukan sebagai amal jariyah. Kebaikan ilmunya akan selalu mengalir, sampai kapan pun.

Mama, Guru Terbaikku. Guru pertama dan utama bagi anak adalah orang tua, baik ayah maupun ibunya. Memang sepatutnya ayah atau mama adalah guru terbaikku bagi anaknya. Dengan begitu, segala informasi yang diterima dari lingkungan rumah ditanyakan dan dikomunikasikan dengan kedua ayah ibunya. Sehingga anak terhindar dari hal-hal negatif dari informasi yang tidak tepat.

Pelajaran yang dapat Dipetik

Semua anak atau siswa adalah manusia butuh perhatian dan kasih saya dari gurunya di rumah yakni kedua orang tuanya. Mereka juga membutuh belain dan kasih sayang dari semua gurunya. Selain itu mereka butuh kasih dari orang-orang terdekat seperti saudara dan teman-temannya.

Sedangkan guru, sekaligus pendidik semua siswanya menjadi manusia-manusia cerdar dan terampil serta berakhlak mulia. Menjalani proses guru memang tidaklah mudah tetapi butuh kesabaran , keikhlasan karena Allah.

Tentang Pendidikan

Kembangakan dunia literasi atau membaca atau menulis  dapat ditanamkan lewat mengamati, meniru dan memodifikasi. Mengenalkan, membimbing dan mengajarkan anak untuk pintar bisa melalui menulis sambil mereview semanjak mereka mulai bisa menulis dan membaca. Semua itu, tentunya butuh kesabaran dan ketelatenan orang tua untuk mendampinginya.

Semua guru dalam mempersiapkan kesuksesan siswanya juga bisa dilakukan dengan kerja jamaah antar guru satu mata pelajaran, agar meringankan beban tugas yang dipikulnya. Usaha yang produktif akan menghasilkan nilai tambah atau kelebihan. Perlu dicermati dan direnung oleh para guru atau pendidik perlu diseimbangkan mengajar dengan mendidik siswa

Kelebihan Buku

Mengenai penilaian buku ini sendiri terdapat kelebihanya, yaitu banyak hikmah yang sangat berguna bagi para pembaca yang dikisahkan dalam karya antologi para penulis. Sabar, ikhlas, dan munajat kepada Allah dapat menghadapi dan menyelesaikan semua permasalahan hidup. Kasih sayang, contoh dan tauladan sebelum menasehati sangatlah menginspirasi.

Kekurangan Buku

Terdapat  typo dalam buku ini dan ada sebagian pelajaran yang hampir berkaitan, tetapi melompat-lompat bagiannya. Selain itu, ada salah ketik dan kurang teliti ada huruf tertinggal. Ada kalimat dan pragraf kurang rapi.

 

Pendapat Penulis

Buku antologi ini yang ditulis lima belas orang penulis. Menampilkan warna dan keunikan kisahnya. Dengan demikikan buku ini, sangat bagus dibaca para penulis pemula untuk mendapatkan inspirasi. Selain itu juga untuk para orang tua, guru, isi buku ini sebagian besar adalah contoh dan teladan dalam membimbing dan mensukseskan siswanya.

Untuk penulis alangkah baiknya perlu dilakukan editing. Agar tidak terjadi salah ketik, kurang huruf,  kurang rapi pragrafnya. jadikan satu walau beda bab. Ada beberapa bab yang sulit dipahami perlu penyempurnaan.

 

 

# Review Buku :

#Tantangan Menulis Makmood Publishing Hari Ke-21

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like