Asa di Ujung Senja : Kesadaran dan Perjuangan Dalam Mengungkap Tabir Kegelapan

Asa di Ujung Senja : Kesadaran dan Perjuangan Dalam Mengungkap Tabir Kegelapan

 

Hallo Miks,

Judul Buku          : Asa di Ujung Senja – Kisah Inspiratif Penyintas ODHA dalam Meraih Asa

Penulis                : KPA Kabupaten Tangerang

Penerbit               : Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Tangerang

Tahun Terbit       : 2019 (cetakan pertama)

Jumlah halaman  : 82 halaman

Ukuran Buku       : 14 X 20 cm

Jenis Buku           : Non Fiksi

ISBN                    : 978-623-92314-0-8

Perjuangan menapaki kehidupan tidaklah mudah, terlebih jika harus mengungkap tabir gelap untuk mencari kebenaran. Kebenaran itupun sangat mematahkan diri sendiri, tetapi hidup harus terus berjalan dan  bertahan agar diakui keberadaannya bukannya untuk di hindari.

Sinopsis

Bangkit dan tetap berjuang untuk bertahan adalah hal inspiratif yang dipetik dan menjadi kata kunci dari kumpulan kisah nyata penulis penyintas ODHA ini. Penulis dengan berani menepis rasa takut untuk mengungkapkan dirinya secara utuh.

Pengungkapan penulis, memberi harapan dari keterpurukan untuk mengungkap tabir kegelapan yang menyelimutinya. Penulis tidak perlu bersembunyi lagi, dengan membiarkan dunia tahu akan keberadaannya. Serta ingin menjadi bagian dalam proses penanggulan, lewat perjuangan yang dituangkan.

Sebuah karya simpel yang enak dinikmati, dengan bahasa penulisan yang mudah dipahami. Sekaligus menjadi panduan untuk menepis, anggapan yang menakutkan oleh masyarakat umum pada mereka.

Kisah Pengalaman Penulis

Kesepuluh penulis menuangkan kisahnya dalam perjuangan yang membingungkan dan menegangkan, dengan memupus rasa ketakutan serta keterpurukannya pada diri masing-masing. Selain itu, banyak yang harus dihadapi dari ketidak percayaan diri juga keluarga atas hal yang terjadi. Terjadi penolakan dan penghindaran yang harus diterima, dan ini sangat menyiksa diri penulis akibat ketidaktahuan dari masyarakat.

Penulis menyadari bahwa penderitaan yang dialami, buah dari perbuatan yang secara sadar pernah dilakukan. Rasa takut terjadinya penularan pada orang terkasih membuat rasa penyesalan timbul. Penyesalan dengan kesadaran untuk bangkit dan bertahan agar dapat beraktifitas sangat di apresiasi lewat buku ini. Dan kehadiran para penyintas yang sangat mendukung, membuat masyarakat memahami bahwa kehadiran mereka tidak perlu ditakuti atau dihindari.

Penderita ODHA ada 2 kategori, ada yang terserang virus HIV dan sudah menjadi penderita AIDS. HIV itu sendiri dimana virus menyerang sistem kekebalan daya tahan tubuh manusia. Sedangkan AIDS, timbulnya sekumpulan gejala dan infeksi karena rusaknya kekebelan daya tahan tubuh manusia yang disebabkan oleh HIV.

Jika terus mendapat dukungan terutama dari keluarga dan orang-orang terdekat, penderita penyakit ini dapat tetap beraktifitas seperti biasa. Dengan rutin mengkonsumsi obat ARV (Anti Retro Virus), akan memperlambat HIV berkembang biak di dalam darah dan meningkatkan kualitas hidup ODHIV. Sehingga untuk menjadi penderita AIDS dapat diperlambat.

Penderita penyakit ini tidak seharusnya ditolak maupun dijauhi, karena cara penularan penyakitnya tidak seperti flu atau COVID-19 yang melalui doplet. Mereka dapat hidup berdampingan dan diperlakukan, sebagaimana manusia lain yang tidak berpenyakit. Dengan diberikan kesempatan untuk dapat melakukan aktifitas dan berkarya bagi diri sendiri maupun orang lain, dapat meningkatkan imun tubuh penderita. Dengan membuat hati yang senang dan bergembira penderita, imun tubuhpun meningkat, dan hati yang senangadalah obat yang manjur untuk semua penyakit.

Pelajaran yang dapat dipetik

Keberanian dan kesadaran penulis dalam menuangkan kisah nyatanya, memberikan penyadaran bagi kita semua. Bahwa dalam menjalani hidup, haruslah sesuai koridor ketetapan yang sudah digariskan. Dan mengisinya dengan hal-hal yang positif agar tidak merusak diri sendiri juga orang lain.

Lewat cara penulis untuk bangkit dan menyikapi kondisinya juga sangat mengispirasi, tidak selamanya keterpurukan dan kegelapan berakibat kenestapaan. Diperlukan dukungan orang terkasih disekitar, terutama melalui orang-orang yang paham atas apa yang dihadapi untuk menjadi penyemangat dalam menjalani hidup. Pendapat dan dukungan dari para ahli diperlukan, tetapi pengalaman dari penderita lain dalam suatu komunitas yang akan sangat membantu dalam penanggulangannya.

Penyesalan pasti ada setelah semua terjadi, tetapi bukan untuk menjadikan diri meratap tanpa berbuat sesuatu melainkan harus bangkit dan mencari jalan untuk tetap bertahan. Dan mengisi sisa waktu yang tersedia, dengan kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain lewat karya yang bermanfaat.

Tentang Pendidikan

Banyak hal mendidik untuk pembaca yang terkandung dalam buku ini, sehingga memudahkan untuk memahami gejala-gejala yang sering ditimbulkan dari penyakit ini.

Dan mengajarkan pembaca, untuk memberi dukungan dan pendampingan pada penderita ketika sedang mengalami titik puncak rasa sakit yang dideritanya. Memaknai baik buruknya setiap penderitaan yang datang, adalah akibat dari perbuatan yang sering kali dilakukan secara sadar. Dan ketika hal itu terjadi, bukanlah saatnya untuk meratapi tetapi harus bangkit dan bertahan dalam penderitaan. Kesadaran untuk bangkit dalam keterpurukan dan kegelapan memang sangat sulit, terlebih jika ada penolakan dari orang-orang yang terkasih disekitar.

Gunakanlah sisa waktu yang tersedia, dengan kembali beraktifitas serta melakukan kebaikan yang bermanfaat untuk orang lain. Kembali ke sang Khalik, lewat pertobatan dan berterima kasih atas kesempatan waktu yang diberikan. Setiap masalah maupun penderitaan, selalu ada campur tangan Tuhan dengan harapan manusia kembali menyadari keberadaanNYA.

Kelebihan Buku

Banyak pelajaran yang dipetik dari kisah-kisah yang dituangkan oleh penulis dalam buku ini. Dimana mengajak pembaca, untuk mengisi hidup dengan perbuatan yang tidak merusak diri sendiri. Pembaca juga di ajak untuk tetap bersemangat dengan berkarya lewat hal yang positif, sekalipun mengalami penderitaan dari suatu penyakit.

Kekurangan Buku

Kurang lugas dalam mengungkapkan penyebab sehingga terserang virus, sehingga menjadikan penulis menerima kondisi penyakit tersebut. Ada beberapa paragraf yang menggantung dan terdapat typo dalam buku ini.

Pendapat Penulis

Buku ini bagus dibaca, dimana penulis sebagian bukan berprofesi sebagai penulis. Masih kurang lugas dan jelasnya dari penulis dalam menuangkan kisahnya, sehingga membuat pembaca menebak-nebak penyebab terserang penyakit seperti yang dikisahkan penulis. Jika dituliskan dengan jelas dan gamblang, akan lebih menjadi pencerahan dan pembelajaran bagi pembaca.

Alangkah baiknya jika dikembangkan lagi alur ceritanya, sehingga memudahkan pembaca mengikuti kisah-kisah penulis yang notabene para penyintas. Sehingga sasaran dan tujuan penulisan buku ini semakin mengena.

 

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like