Mengungkap Warna-warni Budaya Ramadan di Berbagai Daerah Dalam Buku Mosaik Ramadan

Halo, Miks!

Kali ini kita akan mengulas sebuah buku dari Makmood Publishing dengan uraian sbb :

 

Judul : Mosaik Ramadan

Tagline : 13 Cerita Seru Seputar Ramadan

Penerbit : Makmood Publishing

Penulis : Yeni Akram, dkk

Halaman : 166 hal

Dimensi : 14×20 cm

ISBN : 978-623-93109-3-6

Cetakan 1 : April, 2020

 

Bagi setiap muslim, bulan Ramadan merupakan bulan yang istimewa, juga penuh dengan ujian. Setiap muslimin sangat antusias menyambut datangnya Ramadan. Secara sosial, momen Ramadan telah memperkaya warna budaya di seluruh penjuru dunia. Dampaknya, setiap daerah memiliki budaya khas yang berbeda satu dengan yang lainnya. Hal inilah, yang coba diceritakan buku Antologi Cerpen Mosaik Ramadan.

Buku ini berisi 13 cerpen dari 13 muslimah Indonesia di berbagai daerah dan negara. Berbagai kisah menarik dan penuh hikmah digoreskan oleh muslimah yang rata-rata sudah berumah tangga. Rentang usia antara penulis juga menjadikan cerita dalam buku ini beragam, dan seakan-akan membawa kita melintasi lorong waktu. Hal ini memperkaya pengetahuan kita tentang perubahan budaya Ramadan yang terjadi dari tahun ke tahun. Namun, ada beberapa benang merah dari keseluruhan cerita yang ada di sini. Simak, ya.

1. Sosok Ayah

Orang tua akan selalu menjadi panutan bagi anak-anaknya, terutama sosok Ayah, sang kepala keluarga. Sebagian besar penulis dalam buku ini menyelipkan cerita yang menggambarkan sosok Ayah yang berpengaruh terhadap masa depan mereka. Seperti, cerita Rizanti D. Kadarsan yang terkenang dengan sosok Ayah yang kerap membangunkannya dan saudara-saudaranya untuk bangun sahur. Sang Ayah membangunkan mereka dengan menggunakan bahasa Belanda, Schatje Lieve, yang merupakan panggilan sayang.

 2. Spirit Ramadan

Tak dapat dimungkiri, hadirnya bulan Ramadan memberi spirit di relung kaum muslimin, terutama spirit beribadah. Ada yang malas beribadah di bulan-bulan lain, menjadi rajin di bulan ini. Spirit ini yang coba ditorehkan dalam buku ini. Bagaimana mereka menceritakan keseharian mereka saat Ramadan. Seperti cerita Yeni Akram yang melewati Ramadan dengan ibadah umrah. Kita akan ikut merasakan kesenangannya saat menikmati buah kurma yang didapatkan dari kebun kurma milik salah seorang Imam Masjid Nabawi. Seru sekali, kan, Miks!

3. Mengenal Budaya Ramadan di Setiap Daerah

Latar belakang tempat tinggal penulis yang bermacam-macam membuat buku ini kaya akan kisah budaya Ramadan. Setidaknya, tema ini yang coba diangkat dalam buku ini. Kita akan dibuat takjub dengan kisah berbuka puasa di Phnom Phenh-Kamboja, kisah puasa pada musim panas di Finlandia, atau kisah kegiatan Didikan Subuh di Sungai Balai-Kab. Pasaman Barat.

4. Ujian di Bulan Ramadan

Bulan Ramadan selalu diidentikkan dengan bulan penuh ujian, baik itu ujian menahan lapar maupun menahan hawa nafsu. Di samping itu penulis juga mengisahkan ujian yang pernah mereka hadapi, yang dapat menguras air mata saat membacanya. Ada yang ditinggal sang ayah, ada juga yang bercerita bagaimana bulan Ramadan menjadi momen memantaskan diri agar doanya untuk mendapatkan jodoh segera terkabul.

5. Ramadan Momen untuk Bersyukur

Makna bersyukur di bulan Ramadan berupa rasa syukur karena masih bisa dipertemukan dengan bulan Ramadan sendiri. Memanfaatkan Ramadan sebagai sarana untuk meningkatkan ibadah adalah kisah ungkapan syukur atas kehidupan para penulis. Seperti, rasa syukur yang diungkapkan seorang muslimah yang nyaris murtad karena salah bergaul. Penulis tersebut mengungkapkan bagaimana ia mendapatkan hidayah melalui lagu-lagu religi dan ceramah-ceramah yang kerap ditayangkan di bulan Ramadan. Sangat menginspirasi, kan, Miks!

6. Bisa Dibaca oleh Anak-anak

Walaupun, segmen pembaca dan kisah dalam buku ini bukan bercerita tentang anak-anak, buku ini bisa dibaca oleh anak-anak. Terutama, dalam rangka menambah wawasan tentang budaya Ramadan di setiap daerah. Jadi, buku ini bisa dimanfaatkan sebagai sarana belajar anak. 

Setiap buku yang terbit tidak lepas dari kekurangan. Dalam buku ini juga terdapat kekurangan yang bersifat teknis. Seperti, kesalahan dalam pengetikan tulisan Arab. Doa kelancaran urusan yang seharusnya bisa dibaca dari sebelah kanan, tertulis dari sebelah kiri. Ada juga beberapa kesalahan penulisan yang menjadi kekurangan buku ini.

 

Demikian, Miks, ulasan buku Mosaik Ramadan yang diterbitkan Makmood Publishing ini. Semoga melalui ulasan ini dapat memberikan gambaran bagi yang belum membacanya. Selamat membaca!

 

Ditulis untuk Tantangan Menulis Makmood Publishing hari ke-21

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like