Waspada! Inilah 7 Tanda Toxic Parents

Sourse: colourbox.com

Hai, Miks!

Setiap orang tua pasti mencintai anaknya. Cinta bukanlah hanya sebuah rasa dan perkataan, tetapi butuh ditunjukkan melalui perilaku. Sayangnya, terkadang perilaku sebagai perwujudan cinta orangtua kepada anak kurang tepat bentuknya.

Toxic parents adalah pola asuh, sifat, dan perilaku kurang tepat yang dilakukan orang tua sehingga berdampak negatif untuk jangka panjang bagi perkembangan kepribadian anak. Pola asuh dan perilaku toxic yang dilakukan orang tua, entah disadari atau tidak, dapat menyebabkan kerusakan emosi dan psikis anak. Kata-kata yang menyakitkan dan perilaku kasar yang dilakukan terus-menerus merupakan bentuk toxic.

Ada beberapa faktor penyebab terjadinya toxic parents, yaitu:

  1. Kondisi Gangguan Kesehatan Jiwa Orang Tua. Orang tua yang mengalami depresi, trauma pengasuhan, dan kecanduan obat dapat menyebabkan perilaku toxic.
  2. Tidak Peduli terhadap Pola Asuh. Orang tua yang tidak tahu bagaimana cara mendidik anak dan enggan belajar tentang pola asuh.
  3. Tipe Kepribadian Narsistik. Orang tua yang memiliki tipe kepribadian narsistik merasa bahwa pola asuhnya paling benar dan bangga akan dirinya.

Hubungan toxic parents dan anak terjadi begitu saja karena tidak adanya evaluasi berupa kritikan dari pihak anak. Tipe anak yang pasrah, penurut, dan kurang kritis hanya menerima begitu saja perilaku dari orang tua menjadi salah satu faktor toxic parents yang berkepanjangan.

Simak beberapa tanda toxic parents berikut ini agar Anda waspada.

1. Egois

Orang tua sebagai pusat perhatian dan perasaannya lebih utama daripada anak. Tidak memedulikan keinginan dan kebutuhan anak. Dominasi perasaan orangtua sehingga menekan emosi anak.

2. Kurang Menghormati Privacy Anak

Menganggap anak adalah ‘boneka’ yang bisa dikendalikan dan tidak menghormati keinginan anak. Orang tua tidak mau tahu bahwa anak memiliki hak sebagai individu dan ada hal yang menjadi rahasia pribadi. Rasa ingin tahu orang tua adalah hal wajar, tetapi ketika orang tua tidak menghormati hak anak sebagai individu, itu yang menyebabkan racun. Seperti tiba-tiba menggeledah tas anak, membuka gawai anak tanpa bertanya terlebih dahulu, dan mencampuri urusan pribadi anak terlalu jauh.

3. Tidak Punya Empati

Ketika anak merasa sedih dan gagal melakukan sesuatu, orang tua tidak bisa memberikan ketenangan hati. Justru sibuk memarahi dengan bentakan dan kata-kata yang kasar. Orang tua memiliki harapan, keinginan, dan target tinggi terhadap anak tanpa disertai apresiasi.

4. Tukang Tagih

 Menggunakan rasa bersalah pada anak untuk mengontrol anak. Misalnya dengan mengungkit uang yang sudah dikeluarkan dan mengharap imbalan dari anak. Jika anak tidak melakukan hal sesuai ekspektasi, orang tua mengungkit tentang uang atau tenaga yang sudah dikeluarkan untuk anak.

5. Bersaing dengan Anak

Merasa berhak atas anak dan melakukan persaingan melakukan suatu hal yang sedang dilakukan anak. Orang tua tidak merasa senang atas keberhasilan anak, justru berusaha untuk lebih baik dari anak dan mengecilkan kesuksesan yang diraih anak.

6. Suka Mengkritik

 Tidak ada hal baik yang dilakukan anak, kritikan selalu dilontarkan. Menganggap semua hal yang dilakukan anak masih kurang atau salah.

7. Menyalahkan Orang Lain

 Tidak memiliki rasa tanggungjawab terhadap perilakunya, justru selalu menyalahkan orang lain atau justru melemparkan kesalahan kepada anak.

Toxic parents memberikan rasa sakit dan meninggalkan luka secara psikologis kepada anak. Hal yang perlu disadari sebagai orang tua adalah melakukan refleksi diri atas pola asuh dan perilaku selama melakukan proses pengasuhan. Berani meminta maaf kepada anak adalah satu langkah untuk memperbaiki perilaku.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like