Perhatikan 4 Hal Ini Sebelum Melepas Anak Belajar di Pondok

Picture source: sajada.wordpress.com

Hai, Miks!

Dalam memilih sekolah untuk anak, orang tua akan sangat berhati-hati menentukan pilihan tempat putra/putrinya akan menuntut ilmu. Di antara banyaknya pilihan tempat menuntut ilmu, ada sebagian orang tua memilih untuk memasukkan putra/putrinya  ke pondok pesantren. Apa pun model sekolah yang dipilih, orang tua sebaiknya tetap mengomunikasikannya kepada anak karena anaklah yang akan menjalani proses pembelajran tersebut.

Menuntut ilmu di pondok sangat berbeda dengan bersekolah biasa. Moment terberat pada awal proses mondok adalah berpisahnya anak dan orang tua. Anak dan orang tua sama-sama akan menahan rindu. Jadi, anak dan orang tua harus sama-sama mempersiapkan diri, apalagi jika pesantren yang dipilih cukup jauh di luar kota. Komunikasi dan waktu berkunjung yang terbatas, waktu yang harus diluangkan untuk menjenguk, dan dukungan fianansial  harus di pertimbangkan dan disiapkan sebaik-baiknya.

Selain itu, ada beberapa hal lain yang harus dipersiapkan orang tua untuk menyukseskan anak bersekolah di pesantren. Simak, yuk!

1. Pengenalan Pesantren

Saat ini, banyak pesantren berkembang dengan berbagai keunggulannya masing-masing. Agar Anda tidak ragu ketika meninggalkan anak di pesantren pilihan, Anda harus tahu seluk-beluk pesantren, baik kurikulum, tujuan pendidikan, target capaian maupun cara untuk mencapai target tersebut.

Anda juga harus mengenal bagaimana pesantren mengelola kegiatan harian anak-anak. Dengan demikian, Anda akan tahu pesantren tersebut sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai atau tidak serta sesuai dengan potensi yang dimiliki anak atau tidak. Ketika Anda sudah yakin dan anak juga merasa cocok, anak akan mudah beradaptasi dan merasa nyaman di pondok. Setelah itu, Anda bisa menjalin komunikasi yang lebih erat dengan pembimbing anak.

2. Kelebihan Anak Pesantren

Banyak tokoh nasional dengan kelebihan di bidangnya masing-masing adalah lulusan pesantren. Fakta ini menghilangkan stigma kolot yang melekat pada sosok santri. Karena terbiasa mengerjakan dan menyelesaikan masalah sendiri, anak pesantren tumbuh menjadi anak yang mandiri. Persahabatan antar santri yang berasal dari seantero negeri, bahkan luar negeri, menjadikan anak lebih  mudah bergaul dan mengenal berbagai bahasa dan budaya.

Penggunaan bahasa asing dalam keseharian juga menjadi kelebihan lain dari para santri. Penguasaan materi agama membuat santri memiliki nilai plus saat mereka berinteraksi di tengah masyarakat atau terjun di lingkungan kerja non keagamaan.

3. Kesiapan Anak untuk Mondok

Salah satu hal yang membuat orang tua yakin saat meninggalkan anak di pondok adalah keyakinan bahwa anak akan mampu beradaptasi dengan model kehidupan di sana. Anak perlu belajar agar tidak canggung saat mengurus baju kotornya sendiri, antri kamar mandi, dan berbagi dengan beberapa orang sekaligus. Dia harus bisa ikut ceria saat bertemu teman yang ceriwis, bisa membawa diri bertemu teman yang ketus, dan tetap gembira ketika bertemu teman yang pendiam.

Ketrampilan hidup seperti itu harus dilatihkan sejak dini. Berikan waktu minimal satu tahun kepada anak untuk belajar mandiri. Selama masa belajar tersebut, beri lingkungan yang memungkinkan anak beradaptasi dengan orang banyak.

Beri tanggung jawab anak untuk merapikan lemari baju, merapikan kamar, mencuci sepatunya atau menyetrika baju yang akan dipakai. Mengajak anak aktif beraktivitas di masjid dan membiarkannya bermain dengan teman sebaya akan membantu anak belajar berinteraksi dengan orang lain.

4. Motivasi Diri

Keraguan sering muncul dalam proses pengambilan keputusan. Biasanya, keraguan  dipicu oleh rasa khawatir pada kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Dalam kondisi seperti itu, kita harus tawakal atau pasrah atas keputusan Allah, tentu saja setelah melakukan berbagai upaya.

Setelah mempelajari pesantren, menyiapkan anak-anak dengan ketrampilan hidup dan menjalin kerjasama dengan pembimbing dan wali kelas, Anda harus yakin bahwa anak tinggaldi tempat yang tepat. Sebagai ikhtiar terakhir mohonlah kebaikan dan pertolongan dari Allah.

Seorang anak memiliki ikatan batin dengan orang tuanya. Apa yang dirasakan orang tua biasanya juga dirasakan oleh anak. Usirlah galau yang muncul dengan doa agar anak tidak ikut merasakannya. Orang tua harus bisa menenangkan dan menguatkan anak pada saat dibutuhkan. Agar anak siap mondok, orang tua harus lebih dulu menyiapkan diri dan rela berpisah dengan anak.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like