6 Tips Menegur Anak dengan Indah

Foto: islampos.com

Halo, Miks!

Mempunyai anak adalah anugerah yang patut kita syukuri. Rumah menjadi penuh canda tawa dengan celoteh anak. Tak jarang para orang tua selalu merindukan anak ketika tak berjumpa dengan anak. Oleh karena itu, jika anak telah hadir ditengah keluarga kita, sebaiknya kita jaga dengan baik, fisik maupun hatinya.

Jika anak melakukan kesalahan, sepantasnyalah orang tua menegur agar anak tidak kebablasan dan tetap bisa dikontrol. Selain itu, menegur juga penting dilakukan agar anak paham atas kesalahan yang telah dilakukannya dan diharapkan bisa memperbaikinya dikemudian hari.

Buat para orang tua mungkin mengalami stress atau kehabisan ide ketika menghadapi anak yang melakukan kesalahan beberapa kali. Terutama jika kesalahan tersebut sebenarnya hal-hal yang sepele. Nah, enam tips berikut ini bisa dijadikan acuan ketika mau menegur anak agar anak tidak merasa tersinggung dan tetap tersenyum ketika menerima teguran:

1. Buatlah Agreement dengan Anak

Agar anak mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan baik dirumah ataupun diluar rumah maka orang tua harus membuat agreement dengan anak. Misalnya, menjelaskan tentang tugas yang harus dilakukan dipagi hari atau waktu maksimal bermain diluar rumah. Dengan adanya agreement tersebut maka anak menjadi paham sehingga anak mudah dalam menerapkannya.

2. Hindari Melabeli Anak

Tanpa disadari banyak orang tua memberikan label kepada anak atas apa yang dilakukan anak tersebut, misalnya karena anak yang super aktif maka orang tua memberikan label anak nakal. Label yang diberikan tersebut secara tidak disadari ditangkap dan dicerna oleh anak bahwa dia adalah anak nakal, sehingga perilakunya cenderung mencerminkan label tersebut. Dalam kaitannya kesalahan anak yang mungkin terjadi beberapa kali maka orang tua seharusnya menghindari untuk tidak melabeli anak tersebut agar dia bisa berubah sesuai yang diinginkan orang tua.

3. Berikan Toleransi Maksimal

Bukan hal yang aneh jika anak mengulang kesalahannya, bahkan ini sering terjadi. Tambah terus benteng kesabaran agar bisa membersamai anak. Ketika anak mengulang kesalahannya, berikan toleransi maksimal atas kesalahan anak yang masih bisa ditolerir.

Jika melebihi dari batas maksimal tersebut maka orang tua bisa memberikan sanksi. Tetapi harus diperhatikan bahwa sanksi yang diberikan haruslah sanksi mendidik agar anak tetap bisa belajar dari apa yang diterima. Misal, anak sudah melakukan kesalahan yang sama sampai dua kali, maka sampaikan jika anak mengulang kesalahan satu kali lagi maka dia tidak akan mendapatkan uang jajan selama satu minggu.

4. Lembutkan Suara

Ketika emosi sedang tinggi secara otomatis nada suara juga mengikuti. Ini terjadi secara refleks karena perubahan perasaan yang terjadi. Ketika menegur anak gunakan suara yang lembut sama halnya ketika berbicara normal dengan anak. Hindari menggunakan suara dengan nada tinggi karena ini akan membekas di otak anak dan bisa menimbulkan trauma pada anak.

5. Seimbangkan antara Menegur dan Memuji

Menghadapi anak yang melakukan kesalahan memang menguras tenaga dan pikiran. Tetapi janganlah menghabiskan tenaga kita ketika menegur anak. Gunakan 30 detik: 30 detik. Apa maksudnya? Orang tua harus membatasi dalam menegur anak. Tiga puluh detik diawal digunakan untuk menegur anak, dan tiga puluh detik kedua digunakan untuk memuji anak.

Kenapa harus dibatasi? Karena jika tidak dikontrol maka orang tua akan hilang kendali dan menyampaikan banyak hal diluar teguran tersebut, misalnya mengungkit kesalahan anak sebelumnya. Oleh karena jika bisa menerapkan perbandingan 30 detik tadi maka orang tua tidak hanya menempatkan anak pada posisi yang salah tetapi juga mengangkat anak agar dia tidak merasa down.

6. Pujilah Anak

Bukan tidak mungkin anak berubah jika dia paham atas teguran orang tua. Jika anak sudah bisa memperbaiki diri, jangan segan-segan untuk memberikan pujian kepada anak. Meskipun pujian kecil tetapihal ini bisa memberikan kesan bahwa orang tua perhatian atas apa yang dilakukan anak.

Menjadi orang tua yang sempurna harapan banyak orang, tetapi menjadi orang tua yang peduli dan perhatian terhadap tumbuh kembang anak tidak semua orang tua bisa. Yuk, Miks, terus belajar agar bisa mendampingi masa-masa pertumbuhan anak. Tetap semangat!

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like