5 M dalam PJJ yang Harus Dipahami dan Diperankan Guru

Picture sorce: pexels.com

Hai, Miks!

Sudah sembilan bulan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dilaksanakan. Seharusnya, para pelaku utama dalam PJJ sudah bisa beradaptasi dengan baik, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Guru kebingungan saat akan membuat nilai rapor semester gasal ini.

Rata-rata, sepuluh dari tiga puluh dua peserta didik dalam satu kelas belum mengumpulkan tugas sama sekali. Hanya ada nilai Penilaian Tengah Semester (PTS) dan Penilaian Akhir Semester (PAS). Dua nilai yang dimiliki ini pun jauh di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Soal PTS dan PAS berbentuk pilihan ganda sehingga bagi peserta didik yang tidak mau berpikir, menyelesaikan soal hanya tinggal mengeklik jawaban mana yang disukai. Wajar kalau nilai yang didapat di bawah KKM.

Kenyataaan itu menimbulkan apersepsi negatif  terhadap pembelajaran yang sudah dilakukan guru. Pembelajaran yang tidak menarik mengakibatkan peserta didik malas belajar. Salah satu cara mewujudkan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan dalam PJJ adalah 5 M.

Pada metode ini, guru selain melibatkan peserta didik juga membersamakan orang tua maupun komunitas. Sebaiknya, guru memahaminya untuk kemudian diaplikasikan dalam PJJ. Kita kupas peran guru dalam 5 M  itu, yuk, Miks!

1. Memanusiakan Hubungan

Praktik pembelajaran yang berorientasi pada anak ini didasarkan pada hubungan proaktif antara guru, peserta didik, dan orang tua. Guru harus berusaha mengetahui profil ataupun kondisi orang tua dan anak. Usahakan bisa mendapatkan informasi terkait ketersediaan waktu dalam  membersamai anak belajar.

Peserta didik akan merasa dipahami sepanjang proses pembelajaran karena guru dan orang tua menghadirkan  dukungan, penyemangat, ataupun bantuan profesionalitas yang dibutuhkan. Sebagai contoh yang dapat dilakukan guru dalam memanusiakan hubungan adalah  membangun kesepakatan dengan orang tua terkait aturan pengerjaan tugas peserta didik,  jadwal, dan durasinya.

2. Memahami Konsep

Hal pertama yang dilakukan guru agar capaian peserta didik bukan sekadar menguasai konten, tetapi menguasai konsep secara mendalam adalah memberi penjelasan orang tua, mengenai tujuan pembelajaran dan proses PJJ yang dilakukannya. Berikan tugas yang berhubungan dengan lingkungan rumah atau pada persoalan yang sedang ramai dibicarakan.

Guru bisa menggandeng teman sejawat untuk berkegiatan belajar bersama. Guru Prakarya sedang menugaskan peserta didik membuat suatu kerajinan bisa berkolaborasi dengan guru Matematika. Guru Matematika dapat  memberi tugas tentang cara-cara  menyajikan relasi antara bahan pembuatan karya dengan harga bahan tersebut. Guru bahasa bisa menugaskan membuat laporan pembuatan karya, baik itu pelajaran Bahasa Indonesia,  Bahasa Inggris ataupun Bahasa Daerah.

3. Membangun Berkelanjutan

Guru memprioritaskan membuat panduan tugas yang rinci tetapi tidak mendikte. Pastikan orang tua dan peserta didik memahami dan tidak merasa terkekang dalam belajar. Berikan umpan balik pada setiap tugas meski sekadar kalimat penyemangat.

4. Memilih Tantangan

Berikan tugas yang sesuai kurikulum dan kaitkan dengan lingkungan atau kehidupan sekitar. Paparkan beberapa pilihan aktivitas dari berbagai sumber. Berikan kesempatan pada peserta didik untuk  memilih tugas yang disenangi dan bisa dilakukannya. Hindari pemberian tugas yang mengarah pada interaksi banyak orang.

5. Memberdayakan Konteks

Merupakan praktik pembelajaran yang melibatkan masyarakat sebagai sumber belajar, sekaligus memberdayakan masyarakat dalam berkontribusi terhadap perubahan. Guru menyediakan tugas yang membuat peserta didik dan orang tua merasa ikut andil dalam menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi di sekitar tempat tinggalnya.

Menjadi ujung tombak dalam PJJ membuat guru harus terus belajar, meski sudah menjadi pengajar. Demikian Miks, semoga bermanfaat.

0 Shares:
1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like