Terpaksa Berutang? Ini Adabnya Menurut Islam

Picture source: suaramuhammadiyah.id

Hai, Miks!

Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna. Agama ini mengatur tentang akidah, akhlak, dakwah, dan semua bidang kehidupan. Jadi, persepsi bahwa Islam hanya mengajarkan ibadah yang berhubungan dengan Tuhan perlu diluruskan. Salah satunya adalah bahwa Islam pun memperhatikan transaksi yang menjadi domain hubungan antara manusia dengan yang lainnya.

Di bidang muamalah, Islam juga mengatur tentang transaksi utang piutang. Jadi, Islam membolehkannya sebagai sebuah transaksi sosial. Bahkan, Nabi Muhammad pun pernah berutang kepada seorang Yahudi dengan cara menggadaikan baju besinya. Secara logika, utang piutang memang wajar terjadi. Ada kalanya, seseorang membutuhkan dana secara tunai dan tidak ada jalan lain untuk mendapatkannya kecuali dengan berutang. Dengan kata lain, dia terpaksa berutang.

Miks, meskipun diperbolehkan, utang piutang harus dipraktikkan sesuai adab yang diajarkan Islam. Seperti apa adabnya? Kita simak, yuk!

1. Adab Orang yang Memberi Utang

Memberikan pinjaman uang kepada teman yang membutuhkan adalah sebuah kebaikan. Ibnu Majah dengan sanad dari Ibnu mas’ud meriwayatkan bahwa Rasul bersabda: “tiada seorang muslim yang memberikan utang kepada saudara muslim lainnya  dua kali, kecuali baginya pahala sedekah satu kali.” Mengutangi orang yang membutuhkan termasuk salah satu bentuk tolong-menolong dalam kebaikan. Siapa yang menolong saudaranya di dunia, Allah akan menolongnya di akhirat.

Sesuai hukum fikih, prinsip memberikan utang adalah memudahkan maka memudahkan si penerima utang dalam membayar utang juga termasuk kebaikan. Miks, memberikan kemudahan dengan mengizinkannya untuk mengangsur atau memberikan potongan saat dia melunasi. Dengan memudahkan ini, semoga rahmat Allah akan senantiasa berpihak kepada kita. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, “Semoga Allah merahmati orang yang memudahkan ketika menjual, ketika membeli, dan ketika meminta haknya.” Dengan kemudahan tersebut, semoga orang yang kita pinjami merasa senang dan kita mendapat rahmat dari Allah.

2. Adab Orang yang Berutang

Jika terpaksa berutang, kita harus menjaga agar hubungan dengan pemberi utang tetap harmonis. Untuk itu, ada beberapa adab yang harus diperhatikan.

a. Berniat akan Mengembalikan

Nabi Muhammad bersabda bahwa barang siapa berutang dan berniat mengembalikannya, maka Allah Swt. akan memudahkan pembayarannya dan barang siapa berutang dengan niat untuk menghabiskannya, maka Allah Swt. akan membinasakannya. Dengan niat yang benar, insyaallah, kita akan dimudahkan dalam melunasinya.

b. Hanya Berutang karena Alasan Penting

Sebagian orang rela berutang tanpa alasan yang benar-benar penting, tetapi hanya untuk memenuhi tuntutan gaya hidup serta agar terlihat keren dan tidak ketinggalan zaman. Padahal, Nabi Muhammad saja berlindung kepada Allah dari lilitan utang, lo.

c. Tidak Menunda-nunda Pembayarannya

Penuhi janji untuk membayar utang sesuai tempo yang telah disepakati, ya, Miks. Bila kita telah mampu membayar utang sebelum jatuh tempo, segeralah membayarnya. Teman yang mengutangi kita akan merasa senang dan tak segan membantu ketika kita membutuhkan bantuan lagi. Di samping merusak ikatan pertemanan, menunda-nunda pembayaran adalah sebuah kezaliman.

d. Membalas dengan Kebaikan

Wajar, kan, jika kita membalas kebaikan teman yang telah memberikan pinjaman dengan kebaikan? Kita bisa mendoakannya atau membayar utang dengan yang lebih baik. Selama tidak disyaratkan dalam akad, hal ini tidak termasuk riba.

Al-Bukhari mengabadikan sebuah riwayat bahwa Nabi Muhammad pernah berutang kepada seorang sahabat berupa seekor unta dengan usia tertentu. Namun, pada saat pengembalian, beliau ternyata tidak mendapatkan unta yang serupa usianya. Akhirnya, beliau membayar utang dengan unta yang lebih baik kondisinya seraya bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam pengembalian.”

Nah, itulah beberapa adab utang piutang. Semoga dapat menambah wawasan dan bermanfaat, ya, Miks. Wallahu a’lam.

 

7 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like