Siapkan 6 Bekal Ini Sebelum Anda Mewawancarai Klien Ghostwriter

Picture source: Pexels.com

Hai, Miks!

Dalam dunia kepenulisan ada profesi yang cukup bergengsi, yaitu ghostwriter. Meskipun menggunakan kata “ghost” bukan berarti penulisan seputar hantu atau berkutat pada tulisan horor. Ghostwriter di sini adalah penulis bayangan, yaitu seseorang yang disewa untuk menuliskan sebuah karya untuk orang lain.

Apakah ini legal? Ya, ini legal karena ini seperti proses jual beli yang memiliki MoU dan akad perjanjian sebelum pekerjaan itu dilakukan. Ketika nantinya buku atau naskah itu jadi, ghostwriter menyerahkan sepenuhnya pada klien dan ia tidak boleh mencantumkan namanya pada karya tersebut. Salah satu jenis buku pesanan yang cukup menarik adalah penulisan kisah hidup, yaitu memoar dan biografi.

Jika Anda mendapatkan klien atau pemesan untuk penulisan produk jasa ini, poin-poin MoU pada perjanjian harus jelas, mulai dari jenis buku yang akan dikerjakan, rentang waktu penulisan, waktu wawancara, jumlah halaman atau jumlah kata yang nantinya dihasilkan, dan detail nominal yang harus klien bayarkan pada Anda. Hal-hal semacam ini harus dituliskan lengkap dan ditandatangani kedua belah pihak sehingga ada kekuatan hukum seandainya terjadi wanprestasi atau sejenisnya.

Setelah kesepakatan dilakukan, proses selanjutnya adalah wawancara. Proses ini merupakan salah satu riset yang dilakukan ghostwriter untuk memperkaya bahan tulisannya. Wawancara langsung dengan klien merupakan bagian yang paling penting.  Dalam proses ini Anda bisa mengenal klien dengan lebih baik sehingga akan lebih mudah saat mengakusisi kepribadian klien.

Ada enam bekal yang harus disiapkan penulis sebelum melakukan wawancara. Yuk, kita simak.

1. Kesepakatan Outline Naskah

Setelah terjadi kesepakan jenis naskah yang akan dikerjakan, Anda menyiapkan outline. Pahami apa keinginan klien dan runutlah sehingga Anda maupun klien punya bayangan apa saja yang akan dibahas. Anda dan klien harus sepakat terlebih dahulu tentang bab-bab yang akan dituliskan agar pembahasan huku nantinya tidak melebar. Penulisan tiap bab pada outline harus jelas sehingga menggabarkan keseluruhan isi buku secara utuh.

2. Riset Tentang Klien

Sebelum melakukan wawancara dengan klien, ada baiknya penulis melakukan riset tentang klien tersebut. Riset bisa melalui media yang membahas tentangnya, melalui media sosialnya, atau melalui buku-buku yang sebelumnya pernah menulis tentang klien. Riset ini sangat penting agar Anda mempunyai bahan untuk ditanyakan sehingga bisa menggali ingatan klien

3. Persiapkan Daftar Pertanyaan

Setelah riset dilakukan dan Anda mempunyai gambaran, mulailah menyusun daftar pertanyaan. Mulailah dari pertanyaan global lalu mengerucut ke pertanyaan yang lebih spesifik dalam scope bahasan pada bab-bab yang telah disepakati pada outline.

Jenis-jenis pertanyaan misalnya yang berkaitan dengan:

  • Tahun kejadian
  • Suasana kejadian
  • Pengalaman
  • Perasaan
  • Pendapat
  • Latar belakang sikap

4. Pilih Lokasi Wawancara yang Nyaman

Karena penulisan memoar atau biografi lebih bersifat rahasia bagi klien, sebaiknya klienlah yang menentukan lokasi wawancara. Tempat dan waktu yang dipilih sesuai kenyamanan klien mengingat apa yang akan dikorek adalah kisah hidup yang mungkin akan mengungkap sisi terdalam klien. Mungkin juga apa yang akan diceritakan sangat emosional sehingga membuatnya menangis atau menyesal. Karena itu, tempat yang personal mungkin akanmembuatnya lebih nyaman untuk bercerita.

5. Alat Perekam

Ketika melakukan wawancara, penulis tidak mungkin bisa mencatat semua hal yang dikatakan klien secara rinci. Untuk itu, dibutuhkan alat perekam agar bisa didengarkan ulang sebagai bekal untuk pengembangan tulisan. Sebelum wawancara, pastikan baterai perekam penuh agar tidak ada kendala yang tidak perlu. Kalau memungkinkan, gunakan dua perekam sehingga ketika satu alat habis baterai atau mengalami kendala, maka perekam yang lain bisa menjadi back up-nya.

6. Buku Catatan

Meskipun sudah ada alat perekam, penulis tetap menyiapkan buku catatan. Anda tidak boleh hanya mengandalkan perekam karena terkadang ada hal-hal tertentu yang digambarkan secara visual oleh klien yang tidak bisa ditangkap perekam. Mungkin juga ada bagian-bagian tertentu yang harus Anda garis bawahi, yang nantinya harus Anda lakukan riset lebih mendalam. Untuk itu, buku catatan bisa membantu Anda menonjolkan apa yang ingin diungkapkan klien.

Selain poin-poin di atas, Anda juga harus tampil dengan percaya diri. Ketika mengajukan pertanyaan, kalimat yang Anda pilih harus bisa menuju sasaran agar riset yang Anda lakukan bisa memberi banyak bahan. Dengan kesiapan yang baik, tentunya Anda akan tampak lebih professional saat melakukan wawancara. Selamat mencoba.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like